Kamis, 05 November 2015

Taubat Nasuha



                 Tahapan Menuju Taubatan Nasuha


Rasulullah Shallalalhu 'alaihi wa Sallam bersabda: "penyesalan adalah taubat". (HR. Ibnu Majah no 4252 dan Ahmad no 3568 dan yang lainnya. Hadist ini di shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaami' Al Shaghir no 6678)



Penyesalan adalah perbuatan hati, dimana perbuatan hati tidak bisa kita bersengaja untuk melakukannya. Penyesalan bergantung kepada suasana hati, bila suasana hati kita tidak menginginkan penyesalan walaupun lisan kita mengucap “aku menyesal” tidaklah dianggap sebagai sebuah penyesalan. Berbeda dengan perbuatan badan, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka kita masih bisa melakukan amal badan.



Menyesal itu adalah sesuatu yang diluar kehendak kita, di luar kendali kita, diluar ikhtiar kita. Kita sulit menimbulkan sesal atau meniadakan sesal, karena sesal diluar daripada kemampuan kita. Sedangkan taubat adalah perintah, dimana bila taubat itu perintah, berarti kita bisa melaksanakannya (taubat).



Hadits tersebut di atas, menggabungkan dua jenis amal, amalan hati dan amalan badan, dengan sifat yang bertolak belakang. Kita diperintahkan bertaubat, yang berarti kita harus berikhtiar untuk melaksanakannya, sedangkan bentuk pelaksanaannya adalah penyesalan. Penyesalan, sebagaimana diuraikan diatas, diluar kendali kita, kita tidak bisa berikhtiar.



Bagaimana mungkin kita berikhtiar untuk bertaubat, sementara di dalam hati kita tidak muncul rasa penyesalan. Memunculkan rasa menyesal tidak bisa kita paksakan. Kita tidak bisa “memarahi” hati kita agar ia mau menyesal.

Bagaimana caranya supaya bisa menimbulkan perasaan sesal itu, Agar ada taubat? Para ulama menjelaskan bahwa agar kita bisa menyesal terhadap dosa-dosa yang kita perbuat, ada tahapan yang disebut mukaddimah / Permulaan Taubat. Dari tahapan permulaan taubat ini diharapkan muncul perasaan menyesal.



Mukaddimah Taubat:

1. Mengingat Kejahatan, keburukan dan bahaya dari dosa.


Sahabat, ingat-ingatlah apakah kita dahulu berbuat dosa. Bila kita sudah menyadari bahwa kita pernah melakukan dosa, berarti kita melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah, dan Allah pasti tidak senang dengan kita. Akibat ketidaksenangan Allah tersebut, maka suatu saat kelak Allah akan mengambil tindakan tegas kepada kita, baik di dunia atau di akhirat.

Dan sadarilah wahai diriku dan sahabatku semuanya, ketika Allah tidak suka kepada kita, maka segala amal ibadah kita, segala kebaikan yang kita perbuat akan ditolak oleh Allah.

Ingatlah, bahwa dalam satu dosa ada kemurkaan Allah, dan banyak orang yang masuk neraka hanya karena satu dosa. Misalnya ketika di Yaumul Mizan, amal kita ditimbang, dan didapati bahwa amal baik dan amal buruk kita berimbang, 50-50, tetapi ternyata masih ada satu dosa yang belum ditimbang! Duhai diriku, karena satu dosa inilah kita terjeblos kedalam neraka. na’udzubillahi min dzalik.

Sahabat, dengan mengingat hal ini, mudah-mudahan muncul dalam hati kita perasaan takut akan siksa Allah dan kesadaran bahwa karena sebuah dosa Allah murka kepada kita dan segala amal kebaikan kita menjadi sia-sia dan kita akan binasa, kita akan celaka. Mudah-mudahan dengan mengingat dosa-dosa ini menimbulkan penyesalan dalam hati kita.



2. Mengingat betapa dahsyatnya azab Allah.
Sahabat, ketika kita sakit gigi, tidur saja kita sudah tidak bisa, apapun yang kita lakukan selalu terasa tidak enak ketika kita sakit gigi. Sahabat, itu baru sakit gigi, bagaimana pula dengan siksa Allah? Adakah kita mampu menghadapi siksa Allah?

Betapa banyak Rasulullah menceritakan kepada kita bagaimana hebatnya siksa Allah. Ingatkah kita bahwa Rasulullah pernah bercerita kepada kita (melalui hadits beliau) bahwa di alam kubur akan datang ular sebesar leher unta kepada orang yang banyak berdosa. Bukankah seorang penzina disiksa dengan ditusuk dengan besi panas, dan siksa ini terus berulang-ulang tiada akhirnya.



3. Mengingat bahwa kita tidak sanggup menghadapi segala siksa Allah.
Mampukah kita menghadapi ular sebesar leher unta? Sedangkan menghadapi ular sekecil lidi pun kita tidak mampu? Adakah kekuatan kita untuk menahan sakitnya tusukan besi panas? Sedangkan tertusuk duri yang kecil lagi dinginpun kita berurai air mata! Mampukah kita menahan pukulan gada malaikat di alam kubur? Sementara kita terpukul tongkat kecil saja kita tidak mampu! Duhai diri, adakah kemampuanmu untuk menghadapi siksa Allah!



Demikian tahapan permulaan dari taubat.

Penyesalan yang dianggap sebuah taubat bila penyesalan tersebut karena mengagungkan Allah, karena takut kepada Allah. Sedangkan penyesalan dengan alasan selain itu, bukan sebagai penyesalan yang dianggap taubat. Misalnya, seorang penjudi yang habis hartanya di meja judi, kemudian ia menyesal melakukan perbuatan judi, penyesalan tersebut bukan penyesalan yang berarti taubat. Seseorang yang hilang jabatannya karena perbuatannya juga bukan termasuk taubat, seseorang yang terbiasa meminum minuman keras  kemudian ia sakit karena kebiasannya dan menyesal menjadi peminum. Penyesalan-penyesalan tersebut bukan penyesalan yang dikategorikan taubat karena penyebab sesalnya bukan karena Allah.



Sahabat, dengan mengingat tiga hal tersebut di atas, akan mempermudah bagi kita menghadirkan penyesalan. Penyesalan yang benar, penyesalan karena Allah. Dan dengan hadirnya penyesalan tersebut, berdasarkan hadits Rasulullah SAW di atas kita sudah dianggap bertaubat.



Semoga kita diberi Allah taufik dan hidayah sehingga kita bisa menjadi orang yang bisa bertaubat, dengan taubat yang sebenar-benarnya taubat (Taubatan Nasuha) dan diterima Allah segala taubat kita.

Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar